Sekjend AMI, Idam Lanun : Api di Tengah Demokrasi, Jejak Luka di Jalanan Indonesia

Pandapotan H Hutagaol

Pekanbaru-Riau, Gaoelnews.com – Gelombang demonstrasi yang merebak di berbagai kota besar Indonesia dalam sepekan terakhir memperlihatkan wajah buram demokrasi yang tengah diuji. Dari Jakarta hingga Makassar, ribuan orang turun ke jalan membawa spanduk, teriakan, dan amarah. Sabtu (30/8/2025).

Apa yang awalnya dipicu oleh kebijakan tunjangan rumah bagi anggota DPR sebesar 50 juta rupiah per bulan—sepuluh kali lipat UMP Jakarta—berkembang menjadi letupan besar ketidakpuasan publik terhadap ketimpangan ekonomi dan krisis kepercayaan pada elite politik.

“Tragedi menimpa di tengah kobaran aspirasi itu, Affan Kurniawan, pemuda 21 tahun pengemudi ojek online, tewas ketika kendaraan lapis baja polisi melindas tubuhnya saat unjuk rasa di Jakarta. Rekaman video kejadian itu menyebar cepat, menjadi pemantik nasional yang mempersatukan beragam kelompok masyarakat dalam gelombang protes serentak,” tuturnya.

Di Makassar, situasi kian memanas: gedung DPRD dibakar demonstran, menewaskan tiga orang dan melukai lima lainnya.

Presiden Prabowo Subianto telah meminta masyarakat menahan diri dan memerintahkan investigasi transparan.

Tujuh anggota Brimob ditahan, sementara pemerintah berjanji memberikan dukungan kepada keluarga korban. Namun, janji itu belum cukup meredam api di jalanan. Rasa frustrasi publik yang terakumulasi bertahun-tahun kini menjelma menjadi gelombang besar yang sulit dikendalikan.

Sebagai jurnalis investigasi, kami menyoroti bahwa inti persoalan bukan sekadar soal tunjangan DPR. Ini adalah refleksi dari ketidakadilan struktural: kenaikan biaya hidup, ancaman PHK, hingga turunnya kelas menengah.

Tunjangan mewah bagi wakil rakyat hanya menjadi simbol ketimpangan yang mencolok di tengah kesulitan rakyat. Situasi ini adalah peringatan serius bahwa kesenjangan sosial-ekonomi, bila terus dipelihara, bisa berubah menjadi bara api politik yang lebih berbahaya.

“Dampaknya tidak berhenti di ranah sosial. Pasar finansial ikut terguncang: rupiah melemah, IHSG terpukul, dan investor menahan langkah. Ketidakpastian politik kini menjadi risiko utama yang mengintai perekonomian nasional. Bila pemerintah tidak mampu segera mengendalikan keadaan dengan pendekatan persuasif dan kebijakan nyata yang menyentuh rakyat, kepercayaan publik dan pasar bisa runtuh bersamaan,” terangnya.

Himbauan untuk Masyarakat dan Wartawan AMI

“Kami menghimbau masyarakat agar menyampaikan aspirasi dengan cara damai, menjauhkan diri dari provokasi dan tindakan destruktif yang justru memperlemah perjuangan bersama. Kekerasan dan pembakaran hanya akan menambah korban, membuka celah kriminalisasi, dan mengaburkan pesan utama gerakan rakyat. Suara kritis akan lebih kuat jika dikawal dengan disiplin moral dan nalar sehat,” kata Sekjen Aliansi Media Indonesia (AMI) Riau.

Bagi rekan-rekan wartawan yang tergabung dalam Aliansi Media Indonesia (AMI), kami menyerukan pentingnya menjaga profesionalitas dan integritas dalam liputan. Situasi penuh gejolak ini menuntut jurnalis untuk hadir bukan hanya sebagai penyampai fakta, tetapi juga penjaga akurasi dan etika,” tegas Idam Inun.

Hindari framing yang memperkeruh suasana, waspadai manipulasi informasi di lapangan, dan pastikan keselamatan pribadi dalam meliput. Tugas kita adalah memberi terang di tengah kabut disinformasi, menghadirkan suara rakyat sekaligus mengawal janji penguasa agar tetap transparan dan bertanggung jawab.

Di tengah api yang membakar kepercayaan bangsa, jurnalisme harus menjadi air penyejuk: jernih, menenangkan, dan menyelamatkan. Karena pada akhirnya, demokrasi hanya bisa bertahan jika kebenaran terus diperjuangkan.

Sumber:Sekjen AMI, Idam Inun

Editor:Ros.H

Sekjend AMI, Idam Lanun : Api di Tengah Demokrasi, Jejak Luka di Jalanan Indonesia
Ros.H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *