DAIRI – Gaoelnews.com – Sebuah buku yang awalnya disiapkan untuk pameran ternyata membawa cerita lebih besar. Dari Jakarta, gagasan berkembang menjadi komunikasi dan kolaborasi yang dalam hitungan hari ikut mendorong tindak lanjut investasi pengembangan kopi di Kabupaten Dairi.
Buku tersebut adalah seri keenam Solusi Out of The Box berjudul Sharing, Caring & Influencing, yang pertama kali dicetak pada 12 Agustus 2026.
Sebanyak 1.000 eksemplar dipesan untuk memenuhi kebutuhan pameran buku karya 74 penulis Universitas Sumatera Utara (USU) di NT Tower, Hotel Novotel Ahmad Yani, Jakarta Timur. Bahkan, pihak percetakan memberikan bonus cetak cepat sebanyak 30 eksemplar yang selesai pada 14 Agustus 2026.
Namun, perjalanan buku tersebut tidak berhenti di pameran.
Di tengah padatnya agenda pemerintahan, penulis membawa buku tersebut ke Jakarta. Sehari sebelumnya, agenda di Kabupaten Dairi berlangsung sejak pagi hingga tengah malam, mulai dari pengukuhan Tim Paskibraka hingga renungan suci di kawasan Hotel Beristera, Sidikalang.
Keesokan harinya, 14 Agustus 2026, agenda dilanjutkan dengan mengikuti pidato Presiden Prabowo Subianto dari ruang sidang DPRD Dairi.
Usai kegiatan sekitar pukul 12.00 WIB, perjalanan menuju Bandara Kualanamu dilakukan dengan waktu yang terbatas. Dengan bantuan voorijder dari Dinas Perhubungan, rombongan tiba di bandara menjelang boarding penerbangan pukul 17.00 WIB.
Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 19.00 WIB. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lokasi pameran.
Pada kegiatan tersebut, Rektor USU membuka acara. Pemilik NT Group sekaligus salah satu inspirator kegiatan, Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, turut menyambut kehadiran penulis.
Enam seri buku Solusi Out of The Box diperkenalkan secara ringkas beserta latar belakang penulisannya.
Khusus seri keenam, Sharing, Caring & Influencing, penulis menjanjikan buku tersebut untuk dibagikan kepada sekitar 200 peserta dari berbagai bidang dan program studi di USU.
Tak lama setelah perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, seluruh buku dinyatakan selesai dicetak dan mulai dibagikan. Kondisi itu melahirkan keputusan untuk mencetak kembali buku tersebut dalam edisi kedua.
Bagi penulis, momentum tersebut memiliki makna ganda. Pada 20 Agustus 2026, genap satu setengah tahun perjalanan pengabdian kepemimpinan di Kabupaten Dairi sejak dilantik bersama para bupati dan wali kota se-Indonesia di Istana Negara.
Momentum itu kemudian diisi dengan rapat kerja Pemerintah Kabupaten Dairi untuk mengevaluasi capaian sekaligus menyusun agenda kerja hingga akhir 2026.
Laporan dari sejumlah perangkat daerah disebut menunjukkan hasil yang menggembirakan. Target dan realisasi pembangunan dinilai berada di atas rata-rata, bahkan Dairi disebut mampu masuk lima besar Sumatera Utara dalam sejumlah sektor.
Capaian tersebut menjadi semakin berarti karena berlangsung di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Dengan PAD yang berada di kisaran Rp100 miliar dari APBD sekitar Rp1 triliun, Pemkab Dairi mengandalkan kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dunia usaha, masyarakat, serta mitra lokal dan global.
Dalam refleksi tersebut, berbagai program dan investasi disebut mengalir ke Dairi dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah.
Di antaranya program Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial sekitar Rp300 miliar, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) sekitar Rp500 miliar, dukungan program KDMP dan MBG, kerja sama dengan sejumlah lembaga dan mitra pembangunan, serta investasi pengembangan kopi.
Salah satu yang paling mencolok adalah investasi NT Group untuk pengembangan kopi Dairi yang nilainya mencapai sekitar Rp300 miliar.
Komitmen tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui penanaman perdana tanaman kopi oleh Direktur NT Corporation, Grace Tampubolon, bersama Bupati Dairi, Ketua DPRD, camat dan kepala desa.
Menariknya, langkah tersebut disebut sebagai buah dari komunikasi dan diskusi yang berlangsung hanya beberapa hari setelah kegiatan pameran buku di Jakarta.
Presiden Komisaris NT Group, Dr. Ir. Nurdin Tampubolon, merupakan alumni Fakultas Teknik USU Program Studi Mesin angkatan 1974. Sementara Bupati Dairi Vickner Sinaga merupakan alumni Fakultas Teknik USU Program Studi Elektro angkatan 1976.
Kesamaan latar belakang sebagai alumni USU menjadi salah satu ruang pertemuan gagasan, yang kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai potensi dan pengembangan ekonomi Dairi.
Dari diskusi, lahir tindak lanjut. Dari tindak lanjut, investasi mulai bergerak.
“Bak kecepatan cahaya. Hitungan hari,” demikian refleksi penulis menggambarkan cepatnya proses tersebut.
Semangat yang ingin dibangun adalah filosofi “menyalakan lilin ketimbang mengutuki kegelapan”. Artinya, keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk berhenti, melainkan dicari jalan keluar melalui kolaborasi.
Gotong royong, kesetiakawanan sosial dan semangat merawat bumi ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan yang bersumber dari warisan budaya leluhur.
Refleksi itu bahkan tidak ditulis dari ruang kerja formal.
Usai rapat kerja pada Kamis, 20 Agustus 2026, tulisan tersebut diselesaikan di taman Hotel Beristera, Sidikalang.
Di tempat itu, penulis kembali memandang pepohonan yang ditanam sekitar tiga dekade lalu bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan ayahnya, Walter Sinaga.
Hotel Beristera juga memiliki cerita tersendiri. Sekitar 1996, pembangunan hotel tersebut dimulai bersama dua putra Dairi, almarhum Ir. Pantun Bako dan Ir. Pantur Silaban.
Ketiganya merupakan alumni SMU Negeri 1 Sidikalang, yang kala itu dikenal sebagai SMA 225 Sidikalang, dan sama-sama lulusan 1975.
Karena itu, tulisan reflektif tersebut didedikasikan kepada kedua sosok yang dinilai memiliki bagian dalam perjalanan pembangunan daerah.
Apresiasi juga diberikan kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi, Surung Charles Bancin, yang memfasilitasi pelaksanaan rapat kerja di ruang terbuka.
Ke depan, rapat kerja tidak hanya direncanakan berlangsung di pusat pemerintahan. Penulis membuka kemungkinan agar agenda serupa dilanjutkan di kecamatan, termasuk wilayah terjauh di Kabupaten Dairi.
Pada akhirnya, cerita tentang cetakan kedua Solusi Out of The Box menjadi lebih dari sekadar kisah sebuah buku.
Buku menjadi pintu pertemuan. Pertemuan melahirkan diskusi. Diskusi membuka peluang kolaborasi. Dan kolaborasi diharapkan menghasilkan investasi serta manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari lembaran buku, menuju gerak pembangunan Dairi.
(clara)












