SIDIKALANG — Gaoelnews.com
Memimpin sebuah daerah bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam hitungan hari. Apalagi ketika yang dihadapi adalah persoalan jalan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, pelayanan publik hingga bagaimana membuka pintu investasi untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Sekitar 1,5 tahun perjalanan pemerintahan Bupati Dairi Vickner Sinaga bersama Wakil Bupati Wahyu Daniel Sagala, sejumlah program mulai menunjukkan arah dan hasil yang dapat diukur.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan administratif, tetapi juga mencari sumber dukungan lain melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, kementerian, dunia usaha dan berbagai mitra.
Dairi Hijau, Jatagena, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan investasi menjadi bagian dari pekerjaan besar yang sedang dikerjakan secara bertahap.
Salah satu capaian yang cukup menonjol berada di sektor kesehatan. Pemkab Dairi menyampaikan bahwa cakupan Universal Health Coverage (UHC) telah mencapai 100 persen dan Dairi menerima UHC Award 2026. Sementara data per 1 Agustus 2026 yang disampaikan dalam evaluasi kinerja pemerintah daerah mencatat cakupan kepesertaan sebesar 97,86 persen atau 336.754 warga, disusul penambahan kepesertaan pada awal September.
Capaian tersebut tentu tidak berhenti pada angka kepesertaan. Pemerintah juga masih menghadapi pekerjaan lanjutan berupa peningkatan kualitas layanan kesehatan. Bahkan pada 16 September 2026, Bupati Vickner Sinaga mendatangi Kementerian Kesehatan dan bertemu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mendorong revitalisasi RSUD Sidikalang, termasuk sarana-prasarana, alat kesehatan, serta pengembangan Puskesmas dan Pustu.
Artinya, pola kerja yang terlihat bukan hanya menunggu persoalan datang, tetapi membawa kebutuhan daerah langsung ke tingkat kementerian.
Jalan Masih Menjadi Pekerjaan Besar
Persoalan infrastruktur tentu belum selesai. Jalan Kabupaten Dairi memiliki panjang sekitar 1.608 kilometer. Pada awal 2026, kondisi jalan mantap tercatat sekitar 833 kilometer atau 51,8 persen. Pemkab menargetkan pemeliharaan dan pembangunan sekitar 50 kilometer sepanjang 2026 sehingga kondisi jalan mantap di awal 2027 ditargetkan mencapai sekitar 883 kilometer atau 54,91 persen.
Dalam evaluasi Agustus 2026, Dinas PUTR juga melaporkan dari target perbaikan 50 kilometer, hampir 40 kilometer telah dikerjakan. Pekerjaan lainnya meliputi irigasi dan pembangunan tembok penahan tanah untuk pengendalian longsor.
Ini menunjukkan bahwa persoalan jalan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun pada saat yang sama, ada progres yang dapat dicatat dan diukur.
Penghijauan dan Jatagena: Tidak Sekadar Seremonial
Di bidang lingkungan, Pemerintah Kabupaten Dairi juga mendorong gerakan penghijauan melalui program Dairi Hijau.
Dalam refleksi satu tahun pemerintahan, Pemkab mencatat sekitar 62.000 pohon telah ditanam sebagai bagian dari target satu juta pohon dalam komitmen Indonesia Asri.
Sementara program Jatagena diarahkan untuk memperkuat akses dan konektivitas masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.
Program-program seperti ini memang tidak bisa dinilai hanya dari satu atau dua kegiatan. Ukuran keberhasilannya membutuhkan waktu, konsistensi serta kesinambungan kebijakan.
Begitu pula dengan pendidikan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat selesai hanya dengan membangun satu gedung sekolah atau menggelar satu kegiatan. Ia membutuhkan pembenahan yang terus-menerus, mulai dari akses, kualitas tenaga pendidik, sarana pendidikan hingga kesempatan anak-anak Dairi untuk berkembang.
Bupati ke Pusat, Wakil Bupati Mengawal di Daerah
Salah satu pola kerja yang terlihat dalam pemerintahan Vickner-Wahyu adalah pembagian peran.
Bupati Vickner Sinaga cukup aktif melakukan komunikasi dan membawa kepentingan Dairi ke pemerintah pusat. Pertemuan dengan kementerian menjadi salah satu jalur untuk mencari dukungan bagi kebutuhan daerah.
Sementara Wakil Bupati Wahyu Daniel Sagala berada di daerah untuk menjalankan fungsi pemerintahan bersama jajaran perangkat daerah serta menjaga koordinasi agar program tetap berjalan.
Dalam rapat evaluasi kinerja Agustus 2026, keduanya hadir bersama pimpinan OPD dan camat untuk mengevaluasi capaian program. Wakil Bupati menekankan peningkatan kapasitas kinerja dan pendapatan daerah, sedangkan Bupati menekankan perbaikan kinerja serta integritas ASN.
Jika pola tersebut dapat dipertahankan, maka pembagian kerja kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak berhenti pada pembagian jabatan, tetapi menjadi kerja yang saling melengkapi: satu membuka pintu dan membangun koneksi ke luar daerah, satu lagi memastikan pemerintahan di dalam daerah tetap berjalan.
Menggiring Investor, Membuka Ruang Ekonomi Baru
Dairi tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Daerah juga membutuhkan investasi untuk membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi.
Bupati Vickner sendiri dalam evaluasi kinerja menyampaikan pentingnya investor masuk ke Dairi dan menyebut kehadiran investor sebagai bagian dari upaya menggerakkan pembangunan di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
Inilah pekerjaan yang sering tidak terlihat oleh masyarakat. Jalan yang diperbaiki dapat langsung dilihat. Gedung yang dibangun dapat langsung difoto. Tetapi proses membangun komunikasi dengan kementerian, calon investor dan mitra pembangunan membutuhkan waktu, negosiasi serta kesinambungan.
Karena itu, membangun Dairi sebagai Tanoh Kekelengen dan Kota Kopi tidak cukup hanya dengan slogan. Harus ada ekosistem pembangunan yang menghubungkan lingkungan, pertanian, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, investasi dan ekonomi masyarakat.
Rekam Kerja Harus Terus Diuji
Pada akhirnya, 1,5 tahun bukanlah garis akhir.
Masih banyak jalan yang harus diperbaiki. Pelayanan kesehatan masih harus diperkuat. Pendidikan masih membutuhkan perhatian. Penghijauan harus dijaga keberlangsungannya. Investasi harus benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Karena itu, capaian pemerintahan Vickner-Wahyu sebaiknya dibaca sebagai rekam proses, bukan sebagai klaim bahwa seluruh persoalan Dairi telah selesai.
Yang penting, masyarakat memiliki dasar untuk menilai: apa yang sudah dikerjakan, apa yang sedang berjalan, apa target berikutnya dan apa yang masih belum tercapai.
Sebab ukuran keberhasilan pemerintahan pada akhirnya bukan seberapa banyak program yang diumumkan, tetapi seberapa jauh program tersebut benar-benar dirasakan masyarakat.
Satu hal yang terlihat dalam perjalanan 1,5 tahun ini adalah adanya upaya untuk bekerja pada banyak lini sekaligus: menghijaukan Dairi, memperluas akses kesehatan, memperbaiki infrastruktur, memperkuat pendidikan, membangun konektivitas dan membuka pintu investasi.
Pekerjaan itu jelas bukan seperti membalikkan telapak tangan.
Dan justru dari konsistensi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut, masyarakat Dairi nantinya dapat melihat seberapa jauh perjalanan pemerintahan Vickner Sinaga–Wahyu Daniel Sagala dalam mewujudkan Dairi yang lebih maju, sehat, terkoneksi dan memiliki daya saing.












